EoneZone

Yang mau berubah, jarang susah

Konser Slank Ricuh, Meneg Pora Kena Gas Air Mata

Konser ulang tahun (ultah) ke-24 kelompok musik Slank di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, tadi malam(29/12) sempat diwarnai kericuhan.

Setidaknya tiga kali keributan terjadi di tengah konser yang dihadiri ribuan penonton ini. Untuk meredam keributan, para punggawa Slank, Kaka, Bimbim, Ivanka, Ridho, dan Abdee mengimbau penonton tidak bertindak anarkistis. Kericuhan pertama terjadi saat Slank menyanyikan lagu ketiga, Kirim Aku Bunga.Sang vokalis,Kaka, sempat mencoba menertibkan penonton.

Semprotan air juga dilakukan petugas pemadam kebakaran ke tengah penonton. Selain itu, sejumlah penonton juga ditarik keluar oleh petugas keamanan karena menderita sesak nafas akibat terdorong penonton lain dari belakang. Keributan kedua terjadi saat Slank melantunkan lagu Tentang Cinta.

Untuk meredam, para penonton kembali disemprot air oleh petugas. Aksi saling dorong antarpenonton kembali terjadi. Pada lagu ketujuh, Pacarku Kampungan, petugas sempat menyemprotkan gas air mata.Karena tiupan angin,gas air mata tersebut mengenai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Meneg Pora) Adhyaksa Dault yang menonton konser ini. Menteri Adhyaksa pun terpaksa dibawa ke belakang panggung.

Angin juga menyebabkan gas air mata mengenai sejumlah wartawan dan kru belakang panggung. Sang gitaris,Ridho, juga terpaksa mundur untuk menghindari angin yang membawa gas air mata. Adapun kericuhan ketiga terjadi pada lagu kesebelas, Pandangan Pertama, yang menyebabkan Bimbim dan Kaka lagi-lagi maju ke tengah panggung untuk mengimbau penonton tidak bertindak anarkistis.

“Kalau mau berantem jangan di sini, karena di sini untuk konser merayakan ulang tahun Slank. Kalau mau berantem di luar sana dan jangan ganggu kami di sini,”kata Kaka. Konser bertajuk “From Slank with Love” itu dimulai pada pukul 21.30 WIB dengan iringan doa Bunda Iffet.Slank,yang membuka konser dengan lagu Pulau Biru, juga berduet dengan sejumlah penyanyi wanita seperti Maia Ahmad, Julia Perez, Astrid, Nirina Zubir, Tika dan Tiwi (T2), Dewi Persik, dan Sherina.

Olahraga dan Kesejahteraan Rakyat

ADA satu kalimat sakti yang tidak bisa diganggu gugat dalam dunia olahraga manapun. Bahwa sebuah prestasi tidak akan datang tiba-tiba. Semua membutuhkan proses dan perjuangan tidak sebentar untuk mencapainya.

Kemarin merupakan Hari Olahraga Nasional (Haornas) XXIV. Sejatinya, hari itu harus menjadi bagian dari prestasi olahraga dan bukan sekadar peringatan seremonial tanpa makna. Setidaknya, dengan kehadiran UU No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), kita sudah memiliki payung hukum memadai. Tinggal bagaimana para pelaku yang terlibat di dalamnya mengapresiasikan.

Membangun prestasi olahraga bukanlah pekerjaan semudah membalik telapak tangan. Ibarat bangunan tinggi, perlu fondasi kuat untuk menjadi landasannya. Membangun kawasan olahraga hanya perlu waktu kurang dari lima tahun. Tapi mencetak atlet berprestasi perlu waktu empat kali lebih lama.

Atlet yang dibina saat saya menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga saat ini tidak mungkin berprestasi cemerlang hingga di penghujung masa jabatan saya. Kalau toh ada atlet yang berprestasi saat ini, itu merupakan kerja keras sebelum saya menjabat. Atlet yang dibina saat ini barangkali baru 10 atau 15 tahun yang akan datang baru menunjukkan hasil gemilangnya.

Tapi bukan itu yang ingin saya jadikan alasan mengapa prestasi kita seperti masih jalan di tempat. Setidaknya, ada empat komponen yang harus dilakukan untuk mencetak atlet berprestasi. Menurut saya, atlet berprestasi harus dicetak dan bukan dilahirkan. Komponen itu ialah atlet, pengurus, kompetisi, dan sarana.

Atlet merupakan komponen utama pencapaian prestasi. Namun harus diakui, pola pembinaan belum berjalan di atas rel yang tepat. Budaya instan sepertinya masih menjadi hal 'lumrah' di sini. Padahal, crash program seperti itu hanya akan merugikan dunia olahraga secara keseluruhan.

Pengurus (harusnya) merupakan pihak yang memang concern terhadap kehidupan olahraga nasional. Mengurus organisasi olahraga tidak bisa disamakan dengan perusahaan yang berorientasi laba. Apalagi kalau kemudian menjadi pengurus bertujuan 'mencari nafkah' di organisasi tersebut.

Kompetisi merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan. Sehebat apa pun pola latihan yang dilakukan, tanpa mengikuti kompetisi, kita tidak akan tahu seberapa hebat kemajuan sang atlet. Terakhir, sarana pendukung. Tanpa ada sarana dan prasarana pendukung, rasanya mustahil sebuah prestasi bisa diperoleh dengan baik.

Di sisi lain, sebagai lembaga pembuat kebijakan makro olahraga nasional, kami dihadapkan pada masalah pendanaan. Untuk 2007, APBN hanya menggelontorkan Rp663.397.600.000. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa anggaran sebesar itu jauh dari mencukupi.

Namun, bukan berarti di tengah minimnya anggaran menjadi alasan untuk tidak berprestasi. Justru tekanan seperti itu yang harus membuat kita bisa mempersembahkan prestasi gemilang. Yang terpenting lagi ialah bagaimana meningkatkan sport development index (SDI) manusia Indonesia. Pasalnya, pada 2004, SDI kita hanya 34%. Artinya, manusia Indonesia yang berolahraga tidak lebih dari 35%.

Setidaknya, program 3S (sport centre, sport community, sport fund) bisa menjawab berbagai persoalan keolahragaan di Indonesia. Namun, 3S bisa tercapai kalau semua komponen bangsa ikut aktif. Sejujurnya, bila membandingkan dengan masa lalu, ada rasa malu sebagai anak bangsa. Ketika itu, di tengah kesulitan bangsa, ternyata Indonesia mampu membangun kawasan olahraga semegah Senayan ini. Berbagai sarana pertandingan dibangun dan event sekelas Asian Games bisa dilaksanakan. Saya tidak sependapat kalau itu disebut sebagai proyek mercu suar karena nyatanya diimbangi dengan pencapaian prestasi hebat.

Program penghargaan

Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) bukan diam saja. Langkah pertama ialah menggenjot pengesahan UU No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) yang merupakan prioritas. Karena, peraturan perundangan tersebut menjelaskan berbagai hal termasuk hak dan kewajiban pemerintah, pemerintah daerah, hingga masyarakat olahraga.

Menggandeng Kementerian Negara Perumahan Rakyat untuk bersama-sama menyediakan 1.000 rumah bagi atlet/mantan atlet berprestasi hanyalah salah satu program penghargaan. Hal itu perlu dilakukan agar tidak ada anggapan habis manis sepah dibuang. Pemberian apresiasi seperti dana pembinaan kepada atlet berprestasi pun tetap dilakukan. Bahkan, bentuk penghargaan lain dilakukan dengan memberikan bantuan prasarana kepada 35 kabupaten dan kota madya se-Indonesia senilai Rp50 miliar.

Atau sebagai tindak lanjut rapat kabinet terbatas pada 27 Desember 2006, dilakukan koordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara agar 0,5% dari total pengangkatan calon PNS setiap tahunnya diberikan kepada atlet/mantan atlet.

Beberapa hal tersebut hanyalah sebagian langkah yang diambil Kemenegpora dalam mengejawantahkan Bab V UU No 3 tahun 2005. Namun, yang lebih penting ialah bagaimana komunitas olahraga melakukan berbagai terobosan untuk menggali kembali prestasi.

Simak bagaimana prestasi bulu tangkis yang sempat merajai berbagai arena internasional. Sepak bola kita pernah menjadi semifinalis Asian Games II di Manila 1954. Namun, empat tahun kemudian di Asian Games III, Indonesia meraih medali perunggu. Di Piala Asia lalu, sebetulnya bisa menjadi momentum emas bahwa sepak bola Indonesia bisa bangkit. (Kalau mau).

Haruskah kita kembali ke masa lalu untuk meraih kembali kejayaan-kejayaan yang pernah diraih? Tentu tidak. Kini, pemerintah bertindak sebagai fasilitator. Tinggal bagaimana masyarakat olahraga menindaklanjuti dengan program-program pembinaan terpadu. Tidak mungkin pemerintah ikut campur hingga masalah teknis. Karena hal itu merupakan domain dari induk organisasi olahraga.

Daerah harus berani menetapkan cabang olahraga unggulan dan tidak terpaku membina banyak cabang. Tanpa ada spesialisasi, rasanya kehidupan olahraga kita tidak akan pernah maju.

Sejalan dengan amanat UU No 3 tahun 2005, pemerintah bertanggung jawab bukan cuma terhadap olahraga prestasi. Ada dua hal lain yang tidak boleh diabaikan, yaitu olahraga pendidikan dan olahraga rekreasi.

Untuk olahraga pendidikan, jelas peran Depdiknas tidak kecil. Karena hal itu hanya bisa dilakukan melalui jalur formal seperti sekolah. Sedangkan untuk olahraga rekreasi lebih ditujukan sebagai bagian dari proses pemulihan kesehatan dan kebugaran.

Industri olahraga

Sejujurnya, di masyarakat berkembang salah kaprah soal industri olahraga. Barangkali karena terkait kata industri, peralatan dalam olahraga itulah yang dikedepankan. Padahal, industri di sini merupakan sesuatu aktivitas yang menjadikan olahraga itu sebagai 'pabrik'.

Semisal kompetisi bola basket di Amerika (NBA), Liga Primer, Seri A Liga Italia, dan lain-lain. Itu semua sudah menjadi industri olahraga. Karena di dalamnya terjadi 'jual-beli' atlet, sponsor, hak siar televisi, hingga penjualan merchandise. Artinya, industri bukan sekadar mencetak raket untuk bulu tangkis, membuat bola kulit untuk sepak bola, atau merajut tali untuk dijadikan jaring bola voli.

Indonesia bukan tidak bisa meniru. Kompetisi yang teratur bisa dijadikan modal untuk menggerakkan industri olahraga. Bila itu bisa berjalan, pergerakan roda ekonomi tinggal menunggu hasil.

Dampaknya, pembangunan olahraga nasional yang menjadi domain Kemenegpora bisa menemukan bentuknya. Namun, sekali lagi, semua itu tidak bisa dilakukan kementerian ini sendirian. Saya sudah sebutkan empat unsur yang memegang peran penting dalam kehidupan olahraga nasional. Bila ditambah dengan peran lembaga lain, makin menambah gereget pembangunan olahraga nasional.

Selama ini sudah sering diulas di berbagai kesempatan, hanya ada dua kesempatan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Pertama, kunjungan resmi Presiden ke suatu negara. Kedua, saat atlet meraih medali emas dalam sebuah event olahraga.

Olahraga sudah menembus dimensi kebangsaan. Lihat bagaimana Irak menjuarai Piala Asia 2007. Rakyat Irak yang tengah kesulitan nyatanya bisa kompak. Atau Indonesia yang tampil luar biasa di ajang tersebut. Kendati kalah, toh bisa berjalan dengan kepala tegak. Sebab, perjuangan dilakukan dengan gagah perkasa.

Sejatinya, momentum seperti itu harus menggugah persatuan bangsa. Olahraga bisa menjadi penawar kegetiran. Tinggal bagaimana komunitas olahraga itu sendiri yang menjawabnya. Mau atau tidak. Selamat Hari Olahraga Nasional.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/

Do We Need Romantic Sex

Romantic sex, perlukah dilakukan setiap waktu? Bercinta tanpa melibatkan emosi bak sayur tanpa garam. Namun, jika hasrat sudah tak tertahankan, mau bilang apa? Begitulah umumnya kaum pria yang seringkali "hantam kromo" saja. Padahal wanita benar-benar memerlukan romantic sex. Apa romantic sex harus diakhiri dengan kontak seksual?

Bercinta adalah kebutuhan setiap umat manusia. Umumnya, bagi sebagian besar kaum pria menganggap bahwa ada di kamar tidur bersama pasangannya, berarti saatnya bercinta. Padahal, aktivitas di kamar bukan hanya sekedar bercinta saja. Ritual bercinta yang lengkap melibatkan banyak unsur guna diraihnya kepuasan bersama. Banyak anggapan bahwa seks kerap didominasi dengan aktivitas seksual dan posisi-posisi bercinta revolusioner.

Alhasil, aktivitas selalu dianggap via kacamata kontak seksual saja. Padahal, ada yang luput dari sekedar kontak seksual. Unsur romantis memegang peranan penting dalam sebuah hubungan seksual yang sehat dan harmonis. Setidaknya, dengan romantic sex kaum pria telah memberikan kepuasan secara psikis terhadap wanita. Maklum, kacamata wanita tak selalu menganggap kontak seksual harus berupa intercourse.

Fenomena ini disadari betul oleh Alex (43) yang kini menjabat sebagai Area Manager di sebuah perusahaan kontraktor pengadaan barang & jasa. Selama hampir 12 tahun lebih ia membina rumah tangga dengan sang istri, Winda. Dalam kurun waktu sepanjang itu Alex sedikit demi sedikit mengumpulkan arti pentingnya unsur romantis dalam melakukan ritual bercinta.

"Awalnya, hubungan kami memang sangat hot. Saya kira hubungan itu wajar-wajar saja, dan tidak ada masalah. Namun, lama-kelamaan istri saya cenderung frigid," kata Alex. la pun kebingungan, akhirnya dengan komunikasi yang terbuka di antara mereka, Alex menyadari apa yang menjadi masalahnya. Gaya bercinta Alex yang mengadaptasi sistem "tembak langsung" ternyata menjadi ganjalan tersendiri bagi sang istri. Alex pun mengklaim bahwa ia mampu ejakulasi sesuai waktu atau di atas rata-rata pria pada umumnya. Namun, hal itu bukan jaminan bahwa sang istri juga meraih kenikmatan. Beruntung Alex peka dengan ganjalan di hati sang istri. Seiring waktu berjalan, Alex mulai memperlihatkan sikap romantisnya. "Bersikap romantis bukan hanya dilakukan jika sedang bercinta, ingin bercinta, atau setelah bercinta saja. Menurut saya, to be romantic bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
Bahkan, setelah sekian lama, hubungan kami semakin romantis. Tua-tua keladi, makin tua makin jadi...ha..ha..ha..," katanya sembari tertawa lepas.

Apa yang diungkapkan Alex memang cukup beralasan. Menurut Ferryal Loetan, Sex Consultant & Rehabilitation Specialist, menjelaskan, Romantic Sex adalah suasana melakukan hubungan seksual dalam keadaan romantis. Unsur romantis adalah tonggak dari sebuah aktivitas seksual. Artinya, tanpa sesuatu yang romantis, manusia belum tentu bisa melakukan sebuah ritual bercinta dengan lengkap. "Cuma dalam perkembangannya, orang cenderung melupakan unsur romantis dalam beraktivitas seksual. Orang sekarang justru hanya ingat unsur seksualnya saja. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah-masalah dalam hubungan seksualitas karena unsur romantis yang ditinggalkan tadi," kata dokter Ferryal.

Orang Muda Anggap Enteng

Ditambahkannya, unsur romantisme dan seksual adalah sesuatu yang berjalan secara bersamaan. Keadaan romantis sebenarnya bukan hanya kepentingan mayoritas orang muda. Jangan salah! Justru orang muda itu adalah kaum yang paling banyak meninggalkan unsur romantic sex. Mereka cenderung hanya berpikiran ke arah seksual-nya saja. Di benaknya hanya making love dan mencari kepuasan. "Justru romantic sex itu cenderung banyak dilakukan oleh kaum tua, maksudnya orang yang kita anggap sudah lebih dewasa lah.

Karena mereka lebih memikirkan teknik, foreplay, interplay, dan lain-lain. Intinya, mereka lebih cenderung memikirkan hal-hal mana yang lebih menyenangkan secara psikis, bukan cuma menyenangkan secara seksual, seperti saling berbagi cinta kasih, saling memuji, menyanjung, dan lainnya. Sebenarnya, ini condong ke arah kebutuhan si wanita," katanya.

Lanjutnya, teknik-teknik romantis itu mereka harapkan bisa membangkitkan birahinya dan birahi pasangannya secara maksimal. Itulah keuntungan yang mereka dapat di usia tersebut. Sedangkan kaum muda, khususnya yang berumur di bawah 45 tahun, Kadar romantismenya cenderung kurang. "Mereka lebih banyak ke arah seksual. Misalnya, mereka melakukan perangsangan, tapi itu tetap saja yang bersifat seksual, bukan perangsangan yang sifatnya romantis. Dan memang kalau kita bicara romantis, tentunya hal itu lebih bersifat ke arah psikis atau kejiwaan," jelas Dr. Ferryal.

Benarkah tanpa romantisme, urusan menjadi seks tidak berhasil? "Manusia itu makhluk sosial dan romantis. Jadi, kalau seseorang melakukan kegiatan seksual, seharusnya kegiatan romantisme ini jangan ditinggalkan, tetapi sebaiknya dilakukan secara bersama-sama," katanya. Hanya dalam perkembangannya, umumnya kalangan muda memiliki hasrat seksual yang menggebu-gebu alias berlibido tinggi, akibatnya unsur romantis pun luput dari pikirannya.

Bisa dibilang unsur romantis memegang peranan sangat penting dalam menjaga keharmonisan ranjang. "Tanpa romantisme, sebenarnya sama saja kita membeli seks, atau jajan. Dimana pelanggan hanya cari kepuasaan pribadi, dan tidak memikirkan apakah si PSK puas atau tidak," katanya.

Umumnya wanita cenderung lebih membutuhkan romantic sex. Pasalnya, wanita adalah manusia yang lebih emosional ketimbang pria yang cenderung rasional. Jadi, pria lebih banyak pakai otak, wanita lebih banyak pakai hati. Umumnya, di usia perkawinan yang lebih matang unsur romantis justru sangat kentara. Kisaran angkanya bisa di atas lima tahun. Kalau tiap pasangan bisa menjaga kadar romantisme dalam hubungannya, maka semakin lama kualitas romantisme di antara mereka pun akan semakin baik. "Kalau mereka dari awal tidak memikirkan romantisme, tetapi hanya memikirkan seksual, tentunya hal itu tidak akan berjalan. Biasanya, nanti di saat mereka tua pun tak ada lagi unsur romantis di antara mereka," jelas Dr. Ferryal.

Orang Asia Kurang Romantis

Unsur romantisme dalam jiwa seseorang ternyata tak lepas dari kultur negara bersangkutan. Setidaknya hal ini diamini oleh dokter Ferryal. Menurutnya, orang Asia, termasuk Indonesia, cenderung lebih dominan ke unsur seksual-nya. "Coba lihat para orangtua kita, tidak banyak yang romantis di masa tua mereka. Justru mereka yang di saat tua tetap romantis adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dari Eropa. Misalnya, sekolah-sekolah Belanda, dan lainnya," jelasnya.

Tambahnya,"Romantisme yang mereka tunjukkan dengan sering duduk berduaan, saling berpelukan, jalan-jalan bersama di sebuah taman sembari melihat cucunya. Mereka menunjukkan rasa kasih sayang, perhatian, dan menunjukan rasa kebahagiaan terhadap pasangan. Tapi, aktivitas seperti berpelukan dan saling mengelus itu bukan bersifat seksual."

Kendati demikian, kultur orang Asia yang kurang romantis itu sah-sah saja. Namun dengan catatan hal itu tidak menimbulkan protes di antara pasangan. Menurut hasil penelitian Dr. Ferryal beberapa waktu lalu menunjukan bahwa 56% wanita yang belum pernah merasakan orgasme. Hal itu terjadi karena ketidaktahuan si wanita bahwa menikah sebenarnya menjanjikan kenikmatan. Yang mereka tahu bahwa kenikmatan, kebahagiaan, dan kepuasan hanya bisa diraih kaum pria. Padahal, semua itu bukan dominasi
kaum pria. "Tapi, sekarang kan sudah beda, pola pikir wanita sudah berubah. Kini, mereka sudah lebih berani mengungkapkan keinginannya," tambahnya.

Berjalannya waktu dan perubahan zaman, wanita di masa sekarang umumnya mulai terbuka. Artinya, mereka sudah lebih tahu bahwa seksual itu bukan hanya kepentingan kaum pria, tapi kepentingan mereka juga. Mereka sadar bahwa kepuasan adalah milik berdua. "Kalau wanita sudah menyadari itu, mereka tentu tidak mau diperlakukan sewenang-wenang oleh kaum pria," katanya.

Tak Harus Kontak seksual

Karena unsur romantis dalam bercinta bisa mempercepat meraih kepuasan, maka bak dua mata pisau yang berbeda, dilupakannya romantic sex akn bisa mengakibatkan hancurnya hubungan secara tidak langsung dengan pasangan. Namun begitu, romantic sex tidak harus selalu diakhiri dengan hubungan seksual, demikian menurut Dr. Ferryal. Katanya lagi, "Makanya, hal ini bisa dilakukan oleh para orang-orang tua, dan dilakukan di mana saja. Mereka bisa romantis tanpa ada niat merangsang nafsu seksual atau
berlandaskan birahi. Jadi, sebenarnya mereka hanya melampiaskan kasih sayang di antara mereka."

Tapi, aktivitas tersebut tetap digolongkan sebagai aktivitas seksual. "Hanya saja akan lebih baik jika unsur romantisme ini digabung atau diakhiri dengan making love. Tentunya hal ini akan lebih mantap lagi," tambahnya.

Memang ada tipikal pria yang kurang romantis, namun ia memiliki ketahanan durasi bercinta yang cukup fantastis. Kendati demikian, menurut Dr. Ferry, hal itu bukan tolok ukur kejantanan seorang pria.

"Hal itu belum tentu menunjukan sebuah kehebatan dan sebagai jaminan bahwa si wanita juga akan puas. Biar pun kontak seksual bisa berlangsung lama, justru si wanita bukannya mendapatkan kepuasan, tapi malah menderita karena kesakitan. Bahkan, umumnya si wanita ingin hubungan badan itu segera berakhir, karena faktor psikis mereka tidak terpenuhi. Bagi mereka, hubungan macam itu tidak menawarkan kenikmatan," tandasnya.

Unsur romantisme pada wanita memang memiliki peran yang sangat penting. Bahkan, jika teknik romantisme dilakukan dengan mantap, seringkali bisa menyebabkan si wanita orgasme tanpa adanya kegiatan seksual. Bahkan, pria yang memahami wanita, seharusnya bisa memberi keyakinan terhadap pasangannya akan rasa aman dan nyaman. Kamar adalah salah satu lokasi yang menyenangkan bagi sebagian besar wanita. Kamar diyakini sebagai tempat melepas penat fisik dan otak. Di sinilah kejelian seorang
pria diuji. Dapat bersikap layaknya seorang pria sejati. Komunikasi yang lembut adalah salah satu jawabannya. Berikan perhatian lebih dan perlakukan istri bak seorang puteri adalah hal yang tak sulit dilakukan. Ketika istri telah mendapatkan kenyamanan yang dinginkannya itu, dari situlah libido sang istri akan terbentuk, dan berujung ke sebuah ritual bercinta yang apik.

Sumber: Male Emporium

TEKNIK MENYERAP BANDWIDTH DENGAN BROWSER MOZILLA FIREFOX

Pada Address Bar Ketik :
about:CONFIG

Cari :
NETWORK.HTTP.PIPELINING
Klik 2X Sehingga Menjadi TRUE

Cari :
NETWORK.HTTP.PIPELINING.MAXREQUESTS
Klik 2X Kemudian Ganti Angka 0 Dengan 64

Cari :
NETWORK.HTTP.PROXY.PIPELINING
Klik 2X Sehingga Menjadi TRUE

Cari :
NETWORK.PROXY.SHARE_PROXY_SETTINGS
Klik 2X Sehingga Menjadi FALSE

Klik Kiri 1X Dimana Saja,
Kemudian Klik Kanan --> NEW --> INTEGER
Ketik :
NGLAYOUT.INITIALPAINT.DELAY
Beri Nilai 0

Kemudian REFRESH atau Tekan F5

Pada Address Bar Ketik :
about:BLANK

Klik Menu TOOLS --> OPTIONS --> WEB FEATURES
Pastikan Option :
ALLOW WEB SITES TO INSTALL SOFTWARE
Dalam Keadaan Aktif
Bila Belum Aktif, Klik Tanda Check Box Untuk Mengaktifkan
Kemudian Tekan OK Lalu REFRESH ( F5 )
Masuk Ke Link Ini :

https://addons.mozilla.org/en-US/firefox

Kemudian pada search: ketik SwitchProxy Tool

Setelah Selesai Jangan Tekan Tombol UPDATE/Restart, Tapi Klik Tanda X Yang Ada Di Pojok Kanan Atas Dari POP UP Window Yang Muncul

Tutup Semua Browser Mozilla FireFox, Kemudian Buka Lagi Untuk Mengaktifkan
Software SwitchProxy Tool Yang Sudah Di Install Tadi

Kalo Instalasi Sukses, Akan Muncul Toolbar Tambahan Di Bawah Toolbar Navigasi & Address Bar.

:: NOTE ::

Software SwitchProxy Tool Ini Selain Untuk Mengganti Proxy Secara Otomatis Di Browser Mozilla FireFox,
Engine-nya Juga Berpengaruh Terhadap Kecepatan Koneksi Internet. Selamat Mencoba. . .

P 3 K-Terbakar Sinar Matahari

Terlalu lama terkena sinar matahari, khususnya di siang hari, dapat menyebabkan kulit kemerah-merahan, terbakar, bengkak dan kepanasan, yang menyebabkan kekeringan dan mengelupas. Terlalu lama terkena sinar matahari menyebabkan kulit berbintik-bintik, jerawatan, dan bahkan mengidap kanker kulit. Anak-anak rentan terkena sinar matahari sehingga perlu perlindungan.

Ingat
  • Pengobatan terbaik adalah pencegahan. Hindari terkena terik matahari di siang bolong. Kenakan pakaian, topi, dan cairan ( lotion ) pelindung sinar matahari
Tindakan
  • Pindahkan korban ke tempat teduh
  • Kurangi nyeri dengan mandi air dingin, atau kompreslah di bagian yang terluka. Namun jangan mendinginkan si korban
  • Berikan banyak cairan dingin
  • Tutupi korban agar tidak terbakar sinar matahari jika keluar ruangan
  • Segera cari bantuan medis, jika seseorang atau anak-anak melepuh