EoneZone

Yang mau berubah, jarang susah

Kota Bojonegoro Tenggelam

ERTAMA DALAM SEJARAH, Luapan air Bengawan Solo menenggelamkan Kota Bojonegoro, Jawa Timur, kemarin. Kawasan pertigaan Adipura yang tak pernah tergenang air, laksana sungai mengalir deras, termasuk jalan utama lainnya.

BOJONEGORO (SINDO) – Pertama dalam sejarah Kab Bojonegoro, banjir akibat luapan Bengawan Solo menggenangi hampir seluruh wilayah kota. Semua akses jalan utama harus ditutup karena air terus meninggi.

Aktivitas ekonomi pun lumpuh total. Dari pantauan di papan duga, ketinggian air Bengawan Solo di Bojonegoro kota kemarin sore mencapai 16.15 peilschaal.Dengan penunjuk itu, artinya Bojonegoro berada dalam status darurat. Sebagai perbandingan, pada banjir terbesar di Bojonegoro dua dekade terakhir, yaitu pada 1993, ketinggian papan duga mencapai 15.62 peilschaal.

Banjir meluas di wilayah Bojonegoro kota sejak pukul 04.00 dini hari kemarin ditandai dengan jebolnya tanggultanggul buatan yang dibangun warga. Tanggul buatan itu ditumpuk di mulut gang masuk rumah warga yang berada di wilayah bantaran Bengawan Solo.“Airnya terlalu deras, jadi tanggul sudah jebol,” kata Amin,warga Desa Jetak,Kec Kota.

Wilayah Bojonegoro kota sebenarnya sudah dikelilingi tanggul tembok di sepanjang Jalan Jaksa Agung Suprapto,KH Mansur,MH Thamrin,dan Rajekwesi. Sedikitnya terdapat 100 lebih gang yang menghubungkan rumah di bantaran sungai dengan jalan raya. Saat banjir, gang-gang tersebut diberi tanggul buatan agar banjir tidak meluas.

Derasnya air ternyata tidak bisa ditahan tanggul-tanggul pasir, sehingga air terus menerjang kawasan kota dengan kecepatan tinggi. Dalam hitungan jam, hampir seluruh wilayah kota tergenangi air.

“Ini banjir terbesar dalam sejarah. Karena puluhan tahun tidak ada banjir sebesar ini,”kata warga. Akibat terus derasnya banjir, jalan protokol Bojonegoro kota terpaksa ditutup warga. Padahal, sepanjang sejarah, jalan-jalan itu bebas dari banjir. Bahkan, air terus meluas dan mendekati kantor Pemkab Bojonegoro di Jalan Mas Tumapel serta alun-alun kota.

Air terus naik menggenangi Jalan Trunojoyo yang bersebelahan dengan kantor bupati. Rata-rata air menggenangi jalan setinggi 50 cm dan menggenangi permukiman warga di wilayah kota. Sejak pagi, puluhan warga sibuk mengatur tanggul yang jebol. Warga terlihat berjaga-jaga dan tidak melakukan upaya menutup tanggul tersebut. Mereka mengaku sudah kewalahan dengan datangnya air yang begitu deras.

Selain itu,mereka frustrasi karena tidak ada bantuan pasir atau karung dari pemkab. “Ya biarkan saja kebanjiran. Biar warga kota juga merasakan banjir,”kata salah satu warga Desa Ledok Wetan,Kec Kota. Banjir yang menggenangi kota secara cepat ini juga membuat panik semua warga.

Hampir semua warga kota yang tidak menyangka banjir akan menggenangi rumah mereka sibuk menyelamatkan barang-barang berharga.Apalagi, banyak perkantoran dan pertokoan yang juga tergenang luapan air Bengawan Solo tersebut.

Banyaknya jalan yang ditutup akibat tergenang banjir membuat puluhan kendaraan menumpuk di Jalan Monginsidi yang menghubungkan Bojonegoro kota ke Kecamatan Dander sehingga jalan menjadi macet. Pada saat yang sama, kendaraan-kendaraan dari Surabaya ke Semarang atau Jakarta dialihkan melalui jalur alternatif Tuban. Hingga pukul 22.00 WIB, genangan banjir di wilayah Bojonegoro kota belum juga surut.

Perekonomian Lumpuh

Banjir yang menggenangi wilayah Bojonegoro kota mengakibatkan aktivitas ekonomi lumpuh total. Pasar Kota Bojonegoro yang menjadi pusat ekonomi disibukkan oleh para pedagang yang mengangkut barang dagangan ke tempat yang lebih aman. “Sejak pagi tidak ada pembeli. Kita sibuk menyelamatkan barang,” kata Wati, salah satu pedagang.

Pasar Kota memang belum tergenang air,tapi semua jalan di sekelilingnya telah digenangi air dengan kecepatan tinggi, yaitu Jalan Pasar, KH Hasyim Asyari, Jalan Imam Bonjol (Depan Mapolwil Bojonegoro). Akibatnya, lebih dari 200 stan pasar terpaksa tutup dan dijaga petugas keamanan menghindari adanya penjarahan. Beberapa pertokoan di sepanjang Jalan Pasar, Trunojoyo, Rajawali, serta Jaksa Agung Suprapto juga tutup. Pemilik toko sejak pagi mengangkuti barangbarang dagangan, terutama barang-barang elektronik, untuk dipindahkan ke tempat aman.

“Kulkas dan TV kan rawan, jadi kita pindahkan ke tempat aman,” ujar Agus, pemilik toko elektronik di Jalan Pasar. Para pedagang sendiri sudah tidak memikirkan kerugian yang diderita akibat banjir yang melanda Kota Bojonegoro. Mereka mengaku hanya memikirkan cara memindahkan barang-barang. Beberapa pedagang mengangkut barang mereka dengan truk besar.

Ratusan Warga Masih Terjebak

Sementara itu, meski banjir sudah menggenangi 14 kecamatan di Bojonegoro sejak Kamis (27/12) lalu, ratusan warga masih banyak yang terjebak banjir dan belum bisa keluar dari rumah. Mereka masih bertahan di atap-atap rumah, menunggu proses evakuasi. Ratusan warga yang belum dievakuasi di antaranya terdapat di empat desa di Kec Malo, yaitu Desa Rendeng,Kliteh,Nujung,Kemiri, dan Kacangan.Warga kesulitan mengevakuasi korban banjir karena arus air terlalu deras. Perahu karet yang ditunggu warga belum juga datang.

“Memang masih banyak warga yang terjebak banjir karena evakuasi tidak bisa dilakukan,” terang Supiyono, Kasi Pemerintahan Kec Malo. Kondisi warga empat desa di Kec Malo,lanjut dia,saat ini sangat mengkhawatirkan karena persediaan makanan mereka mulai menipis. Bantuan dari Pemkab Bojonegoro sendiri tidak bisa disalurkan karena semua jalan terputus.

Sementara bantuan yang diberikan kepada warga melalui udara tidak efektif karena kondisinya rusak setelah diterjunkan dari atas. Aliran listrik pun sejak dua hari terakhir padam. Dua warga Kec Malo dilaporkan meninggal dunia akibat banjir, yaitu Tasminah, 45, dan Murtono, 28. Keduanya warga Desa Tulungrejo.

Bantuan Belum Menyeluruh

Meski banjir sudah menggenangi wilayah Bojonegoro kota, bantuan kepada para korban banjir belum menyeluruh.Warga mengaku belum mendapat bantuan makanan sama sekali. Itu terlihat dari banyaknya korban yang membuka posko amal dan terkadang setengah memaksa meminta siapa pun yang datang untuk menyumbang. “Mas,tolong disumbang.Kalau tidak ada rokok, ya apa sajalah,” kata warga Jalan Jaksa Agung Suprapto yang menjadi korban banjir.

Di tempat terpisah, Bupati Bojonegoro HM Santoso mengumpulkan semua satuan kerja (Satker) di lingkungan Pemkab Bojonegoro untuk membahas banjir yang terus meluas.Menurut,Kadis Infokom Jindan Muhdin, bantuan sebenarnya sudah banyak didistribusikan ke warga. “Kita sudah distribusikan 40 ton beras ke 15 kecamatan di sepanjang sungai,” katanya.

Menurut dia, Pemkab kesulitan mendistribusikan bantuan ke wilayah banjir yang sulit dijangkau kendaraan darat.Apalagi, banyak jalan sudah terputus. Tidak hanya di Bojonegoro,banjir akibat luapan air Bengawan Solo juga meluas ke Kabupaten Lamongan dan Gresik.Di Lamongan, bila sebelumnya hanya dua dusun di Kec Laren dan Kec Glagah, sejak kemarin banjir merendam lima desa di Kec Babat, yaitu Desa Teruni, Terpan, Babat, Kebalandono dan Banaran.

Lokasi kelima desa tersebut dekat dengan Bengawan Solo. Sejak Jumat (28/12) malam, air luapan Bengawan Solo mulai merembet masuk ke desa dengan ketinggian ratarata mencapai 1 meter. Bila sebelumnya di Kab Gresik air hanya merendam ratusan hektare tambak dan sawah di Desa Sidomukti, Kec Bungah, kemarin air sudah merendam ratusan rumah di empat desa daerah aliran sungai (DAS), yaitu Desa Sidomukti, Mojopuro Gede,Mojopuro Wetan,dan Desa Bungah.

Solo dan Ngawi Surut

Sebaliknya, banjir akibat luapan air Bengawan Solo di Kota Solo mulai surut. Sejumlah jalan yang sebelumnya ditutup sudah dibuka kembali. Genangan air di Kab Ngawi juga semakin berkurang. Meski demikian, transportasi menuju ke Kota Ngawi hingga kemarin masih lumpuh. Jalur utama dari Madiun menuju Kota Ngawi masih tergenang banjir di dekat Jembatan Ngawi.

Selain itu, jalur utama Ngawi-Bojonegoro dan Ngawi-Sragen masih terputus. Dari pantauan, ratusan truk dari arah Madiun menuju Kota Ngawi tertahan hingga 10 km. Jalan-jalan raya Madiun-Ngawi ditutup oleh warga. Mereka menggunakan badan jalan untuk menjemur pakaian, gabah, dan membuat dapur untuk memasak makanan.

Benahi Gajah Mungkur

Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi meminta pemerintah pusat untuk segera melakukan langkah penyelamatan terhadap Waduk Gajah Mungkur. Alasannya, dengan kondisi saat ini waduk terbesar di Asia Tenggara itu diperkirakan hanya bisa dimanfaatkan sebagai pengatur air dan pengaman banjir wilayah bawah waduk untuk tidak lebih dari 10 tahun mendatang.

Wonogiri merupakan wilayah hulu Bengawan Solo. “Dalam kondisi seperti sekarang, jika terjadi banjir bandang terus-menerus, Kota Solo dan sekitarnya sampai Jawa Timur akan tenggelam,” papar Begug di depan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) di pendapa rumah dinas Bupati Wonogiri kemarin. Begug mengungkapkan, sejak 2004,Pemkab Wonogiri telah mengajukan beberapa program penanganan Waduk Gajah Mungkur ke pemerintah pusat.

Program-program itu antara lain untuk pembuatan bendungan penahan lumpur (cekdam) sebanyak 26 unit serta pembuatan saluran irigasi dari 22 anak sungai Bengawan Solo di Wonogiri yang potensial menyumbang sedimentasi ke Waduk Gajah Mungkur. Selain itu, Pemkab Wonogiri meminta penyelamatan hutan dan lahan kritis seluas sekitar 13.000 hektare melalui program penghijauan.

“Program ini telah kami laksanakan, bekerja sama Dirut Perhutani dengan menanam pohon jati dan lain-lainnya sebanyak 7,6 juta bibit pohon pada 2007,” bebernya. Mendapat penjelasan tersebut, Presiden SBY langsung menginstruksikan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto membenahi mekanisme pengelolaan Waduk Gajah Mungkur,Wonogiri.

“Menteri PU,mana Menteri PU? Saya minta untuk segera melihat, mempelajari,dan merevisi Keppres No 129/2000 supaya pemkab punya peran dalam penanganan Waduk Gajah Mungkur,”ujar Presiden. Sayangnya, Menteri PU yang dicari-cari Presiden ternyata tidak ikut dalam rombongan. Usut punya usut, Djoko Kirmanto masih di Solo.

“Ya sudah, Seskab (Sudi Silalahi) nanti sampaikan kepada Menteri PU untuk melakukan pengkajian kembali keppres tersebut,” tuturnya. Presiden mengungkapkan, karena dampak pendangkalan Waduk Gajah Mungkur sangat besar, pemerintah akan segera melakukan rapat khusus terkait hal itu. Rapat tersebut perlu dilakukan untuk mencari solusi supaya musibah banjir bandang di Solo dan sekitarnya tidak terus terjadi.